<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862</id><updated>2012-02-16T15:05:58.935-08:00</updated><title type='text'>Ceritaku Adalah Hidupku</title><subtitle type='html'>Pertanyaan Yang Ada Selalu terlontarkan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862.post-3468690552711038396</id><published>2009-04-18T09:20:00.000-07:00</published><updated>2009-04-18T10:19:36.380-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SeoDa20ymvI/AAAAAAAAACo/3G5SxCybzMg/s1600-h/kepake.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SeoDa20ymvI/AAAAAAAAACo/3G5SxCybzMg/s320/kepake.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326073269247449842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tangerang (10/04/09) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Umur 14 Maling Motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi Larangan-Selatan Ciledug, Tangerang, Banten,. Seseorang warga yang kehilangan motor dirumahnya yang biasa motor itu di parkir diteras rumahnya sadar-sadar motor setelah Aan ingin berangkat sekolah motor sudah tidak ada. Bapaknya Aan/ Pak Yusuf beliau juga seorang RT.&lt;br /&gt; Ternyata setelah dicari beberapa jam sekitar jam 11 siang anak itu ditemukan disuatu tempat tidak terlalu jauh dari rumah korban, Pelaku sebut saja firman(14 tahun) mengakui mengambil motor sekitar jam 3 pagi motor itu dihidupkan dari tempat kejadian jaraknya hampir 100 meter. Keterangan dari Yusuf sebelumnya sepada anaknya sekitar 4 hari yang lalu juga hileng yang mengambil juga pelaku yang sama. Dia mengambil motor bersama temannya yang lebih kecil dari pada dia umurnya baru 11 tahun. Setelah ditanya-tanya banyak warga yang kehilangan barangnya seperti tabung gas, setelah firman dibawa kerumah korban menjadi bulan-bulanan warga. Jam 1 siang pelaku dibawa kepolsek ciledug &lt;br /&gt; Titi !! “mau jadi apa anak masih sekecil itu sudah berani-berani dan sering mengambil barang yang seharusnya bukan milik dia. Apa orang tuanya tidak tahu atau tidak diajarkan oleh orang tuanya” ujarnya di ciledug (10/4).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695093974133986862-3468690552711038396?l=duanbuanget.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/3468690552711038396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2695093974133986862&amp;postID=3468690552711038396&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/3468690552711038396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/3468690552711038396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/2009/04/tangerang-100409-anak-umur-14-maling.html' title=''/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SeoDa20ymvI/AAAAAAAAACo/3G5SxCybzMg/s72-c/kepake.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862.post-8850490060247484091</id><published>2009-01-28T13:09:00.001-08:00</published><updated>2009-01-28T13:26:12.986-08:00</updated><title type='text'>Menjalani hidup</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SYDNCsQ6ujI/AAAAAAAAACg/U9i2oBRkZ6Y/s1600-h/jakarta-pancoran-tempo-doeloeku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 228px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SYDNCsQ6ujI/AAAAAAAAACg/U9i2oBRkZ6Y/s320/jakarta-pancoran-tempo-doeloeku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296458607913253426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ANDA ingin sukses? Anda ingin bahagia menjalani hidup ini? Jika ya, nikmatilah hidup. Orang tak bisa bahagia karena tak bisa menikmati hidup. Berikut ini ada "10 Perintah" yang mesti Anda pegang untuk bisa menikmati hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan anggap diri tak berharga! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan meruntuhkan diri Anda dengan membandingkannya dengan orang lain. Jangan membandingkan apa yang Anda miliki, yang Anda rasakan dan yang orang lain miliki, rasakan dan hadapi. Ingat, masing-masing orang punya konteks. Punya situasi sendiri yang tak bisa dipukul rata dengan orang lain. Anda unik, berbeda dan spesial. Anda memiliki sesuatu yang berharga dalam diri Anda, yang tentu saja tidak dimiliki dan berbeda dari orang lain. Karena itu, sayangi diri Anda. Banggalah karena Anda menjadi Anda seperti saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ikut orang lain! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menentukan tujuan hidup Anda sama persis dengan tujuan hidup orang lain. Belum tentu apa yang penting bagi orang lain, penting juga buat Anda. Belum tentu apa yang baik bagi orang lain, baik juga untuk Anda. Hanya Anda yang tahu apa yang terbaik untuk diri Anda. Jadi, lakukanlah apa yang menurut Anda benar serta sesuai dengan apa yang Anda inginkan dan harapkan. Hanya saja, hal itu mesti tak berlawanan dengan nilai moral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan anggap remeh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan anggap remeh apa pun, sekalipun kecil dan sederhana, yang terjadi atau yang Anda rasakan dan alami. Jika Anda senang karena suatu hal yang sederhana, jangan anggap itu hal yang biasa. Lihat baik-baik, pasti ada pelajaran berharga yang bisa Anda petik dari situ. Jika Anda bingung, jangan anggap remeh. Anda bisa dapat sesuatu dari situ. Jangan anggap remeh orang, benda, atau peristiwa, orang atau benda bisa membuat Anda sadar dan semakin menghargai hidup. Ingat, without them life is meaningless. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan terbenam pada masa lalu atau melompat ke masa depan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa Anda punya pengalaman pada masa lalu. Benar juga bahwa Anda punya impian untuk masa depan Anda. Tapi tidak benar bahwa Anda berkhayal untuk bisa kembali ke masa lalu. Bahwa Anda ingin hidup seperti waktu yang dulu. Tidak benar juga bahwa Anda langsung melompat ke masa depan. Berkhayal bisa punya mobil mewah, rumah megah atau harta berlimpah ruah. Yang mesti Anda lakukan adalah menghidupi hari ini. Artinya, sadar bahwa hari ini Anda bekerja untuk bisa hidup. Karena itu, hadapilah hari ini dengan sebaik-baiknya. Jika Anda menghadapi hari ini dengan baik, Anda akan siap menghadapi hari esok. Jangan biarkan masa lalu menghantui hari-hari Anda. Jangan biarkan khayalan tentang masa depan membunuh kreativitas Anda hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menyerah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menyerah jika Anda masih memiliki sesuatu yang bisa Anda perbuat untuk hidup Anda dan orang lain. Jangan putus asa jika Anda masih memiliki potensi dan kemampuan yang bisa Anda bagikan. Berusahalah untuk meraih apa yang Anda inginkan. Jangan putus asa! Nothing is really over... till the moment you stop trying.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan takut untuk merasa tidak sempurna! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa banyak orang tak sukses? Mengapa banyak orang tak maju? Karena mereka takut mengakui kekurangan mereka. Karena mereka takut menerima kenyataan bahwa mereka tak lebih baik dan hebat daripada orang lain. Jika ternyata Anda tak tahu, katakan saja tak tahu. Jika ternyata Anda tak pandai, katakan saja tak pandai. Bukankah nobody is perfect? Jangan pernah takut untuk sadar dan terima kenyataan bahwa Anda jauh dari sempurna. Kesadaran semacam itu akan mendorong Anda untuk terus berusaha. Terus berjuang untuk menjadi lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan takut mengambil risiko! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang tak mengandung risiko. Apa pun yang Anda ambil dan putuskan, sekecil dan sesederhana apa pun itu, selalu mengandung risiko. Beranilah menghadapi risiko. Anda tahu bahwa kalau Anda mencintai orang itu, orang lain pasti akan membenci Anda. Apakah Anda berhenti? Tidak perlu! Hadapilah risiko itu! Sekali lagi, jangan takut mengambil risiko. Risiko membuat Anda belajar untuk berani. Berani melangkah, berani mencoba, dan berani mengambil keputusan. Jika tidak, Anda hanya maju satu langkah tapi mundur dua langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan mengekang cinta! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah mengekang cinta hanya karena Anda berpikir bahwa untuk bisa mendapatkannya Anda berusaha keras. Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah memberikan cinta. Kata Scorpion, what you give, you get back. Kalau Anda mencintai orang, Anda akan dicintai. Kalau Anda menghormati orang, Anda akan dihormati. Kalau Anda menolong orang, Anda akan ditolong. Kalau Anda membela orang, Anda akan dibela. Kalau Anda memberikan sesuatu juga, Anda pasti diberikan sesuatu juga, sekalipun bentuknya tak persis sama. Hal tercepat yang bisa menghilangkan cinta adalah jika Anda menggenggamnya terlalu erat. Cara baik menjaga cinta adalah memberikannya sayap. Membiarkan cinta terbang dan berkembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan membuang mimpi! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menghilangkan mimpi Anda. To be without dreams is to be without hope; to be without hope is to be without purpose. Hidup tanpa mimpi sama artinya dengan hidup tanpa harapan. Jika Anda hidup tanpa harapan, Anda akan hidup tanpa tujuan. Anda mesti punya mimpi supaya Anda selalu berharap. Anda harus punya harapan supaya Anda selalu bergairah menjalani hidup ini. Jika Anda tak punya tujuan, Anda akan jatuh ke dalam kekosongan. Hidup Anda tak punya makna. Tak punya arti. Impian dan harapan adalah energi yang kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tergesa-gesa! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, life is not a race, but a journey to be savored every step of the way. Pada titik yang paling dalam, hidup bukanlah perlombaan atau medan pertarungan, melainkan sebuah perjalanan yang mesti dinikmati. Anda tidak hidup untuk mendapatkan medali emas, tetapi Anda hidup untuk menikmati setiap langkah Anda meraih medali emas. Yang penting dalam hidup bukan hasil, melainkan proses. Dan proses itu mesti dinikmati. Tidak boleh ditinggalkan atau sengaja ditiadakan. Karena itu, jangan tergoda untuk cepat-cepat menyelesaikannya. Nikmatilah setiap apa yang Anda jalankan. Pada setiap detail proses itu, Anda belajar sesuatu.&lt;br /&gt;(Genie/Genie/tty)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695093974133986862-8850490060247484091?l=duanbuanget.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/8850490060247484091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2695093974133986862&amp;postID=8850490060247484091&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/8850490060247484091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/8850490060247484091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/2009/01/menjalani-hidup.html' title='Menjalani hidup'/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SYDNCsQ6ujI/AAAAAAAAACg/U9i2oBRkZ6Y/s72-c/jakarta-pancoran-tempo-doeloeku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862.post-6239089198141996784</id><published>2008-11-29T06:49:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T06:53:17.727-08:00</updated><title type='text'>SAMPAI KAPAN AKU AKAN SEPERTI INI</title><content type='html'>SAMPAI KAPAN AKU AKAN SEPERTI INI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang pria berumur 21 tahun yang bernama ISNAIN MALIK yang biasa dipanggil oleh teman-temannya BILINK. Isna anak pertama dari 3 bersaudara dan adik-adiknya laki semua. Isna mempunyai kehidupan yang agak berat belum lama ini dia baru keluar dari penjara terkena kasus penganiayaan yang dilakukan oleh isna kepada pacarnya yang biasa di sebut awang, entah alasan apa isna ini menganiaya awang, tetapi binggungnya awang masih tetap cinta kepada isna setiap 2 minggu sekali awang selalu menengok isna dipenjara dan mengirimkan uang. Dibelakang ini keluarga si awang tidak setuju awang tetap berhubungan kepada isna tapi awang masih tetap kekeh pacaran tanpa sepengetahuan keluarganya. Awang sempat masuk rumah sakit atas penganiyaan isna dan isna sendiri pernah diabisi oleh pamannya yang pamannya itu sendiri seseorang TNI dan Brimob isna abis juga dihajar oleh kedua pamannya itu . Awang melihat Isna  saat dihajar oleh kedua pamannya,  awang menangis dan melareang untuk tidak menghajar isna, kamu goblok ya udah tau isna gitu sama kamu tapi kamu masih suka sama dia (Ibunya Awang Berkata). Setelah isna keluar dari penjara dia melakukan kasus yang sama yaitu penganiayaan dan ternyata yang dia aniyaya adalah salah satu anak dari Polisi sampai sekarang dia menjadi TO polisi.&lt;br /&gt;  Isna juga pernah menikah 2 kali saat isna masih sekolah dia melakukan hubungan diluar nikah, dan dia sekarang mempunyai anak lelaki yang berumur 2 tahun anak itu dirawat oleh ibunya isna. Dia juga udah sering pindah-pindah sekolah dan sempat juga dimasuki pesantren oleh bapaknya isna di pesantren tidak bertahan lama sekitar 2 minggu dia di pesantren. Bapaknya juga udah binggung harus bagaimana  merubah isna jadi lebih baik. Padahal pekerjaan bapaknya pekerjaan yang mulia hanya seorang tukang ojeg. Entah apa yang ada dalam dipikiran dia sampai semua hal yang tidak pantas untuk dilakukan dia lakukan. Dia juga sempat pulang kerumah yang ternyata ada hal kecil yang dilakukan adiknya yang bernama edo masih berumur  9 tahun, edo juga sempat kabur dari pesantren didaerah serang banten, edo mau pulang kejakarta dengan bermodalkan 30,000, lucu juga kalo dipikir edo naik salah satu bis AC diterminal serang akal yang cerdik dia bersembunyi ditoilet bis itu dan pintunya itu dikunci oleh edo setelah beberapa didalam bis itu edo merasa bis itu berhenti dia baru keluar dari toilet itu dan dia pergi dari bis yang dinaikinya. Sampai juga dia pulang kerumah didaerah Jakarta tersebut. Ada juga satu lagi adiknya isna yang bernama boni anak kelas 3 smp disalah satu sekolah negri dijakarta boni juga pernah sempat tertangkap oleh polisi karna boni membawa senjata tajam dia ikut tauran bersama teman-teman sekolahnya. Tetapi dia tidak ditahan hanya disuruh memanggil orang tuanya. Boni ternyata pulang juga kerumahnya sesampainya dirumah bapaknya menceramahkan boni.&lt;br /&gt; Isna dengar cerita kedua adiknya isna sempat ngobrol dengan kedua adiknya dan bicara kepada mereka berdua isna bicara “udah abang aja yang kaya gini kalian belajar yang benar” (kata-kata yang bijak)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695093974133986862-6239089198141996784?l=duanbuanget.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/6239089198141996784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2695093974133986862&amp;postID=6239089198141996784&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/6239089198141996784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/6239089198141996784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/2008/11/sampai-kapan-aku-akan-seperti-ini.html' title='SAMPAI KAPAN AKU AKAN SEPERTI INI'/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862.post-590228980840840678</id><published>2008-11-26T23:19:00.000-08:00</published><updated>2009-02-03T10:57:46.585-08:00</updated><title type='text'>KENNYATAAN PAHIT YANG KUTEMUKAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SS5LuCvI1eI/AAAAAAAAACQ/wSPeisWqHjc/s1600-h/anak2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 199px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SS5LuCvI1eI/AAAAAAAAACQ/wSPeisWqHjc/s320/anak2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273235468078077410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left; font-family: arial;"&gt;Pernah ada sebuah kisah nyata yang ditemukan dalam sebuah kehidupan dikeluarga kecil dan mempuyai anak 7 tinggal di rumah yang kecil. Anak-anaknya masih pada kecil mereka ikut bekerja membantu keluarga yang kurang mampu. betapa sunyinya kehidupan yang terasa menusuk kehidupan mereka yang harusnya mereka masih bermain di taman kanak-kanak&lt;br /&gt;Apakah ini negara kita yang selalu kita bangga-banggakan&lt;br /&gt;Apa salah mereka???&lt;br /&gt;tunjukanlah keadilanmu berikan kami kehidupan yang lebih tenang.&lt;br /&gt;Kehidupanku menjadi tak terbayangkan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695093974133986862-590228980840840678?l=duanbuanget.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/590228980840840678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2695093974133986862&amp;postID=590228980840840678&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/590228980840840678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/590228980840840678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/2008/11/kenyataan-yang-pahit-yang-kutemukan.html' title='KENNYATAAN PAHIT YANG KUTEMUKAN'/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SS5LuCvI1eI/AAAAAAAAACQ/wSPeisWqHjc/s72-c/anak2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862.post-7911067094572446885</id><published>2008-11-26T09:38:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T09:39:39.115-08:00</updated><title type='text'>komunitas film indie</title><content type='html'>Berawal dari teman biasa dan mempunyai hobby yang sama yaitu suka dengan film terjadilah sebuah komunitas film indie komunitas 2 siang di kampus budi luhur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695093974133986862-7911067094572446885?l=duanbuanget.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/7911067094572446885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2695093974133986862&amp;postID=7911067094572446885&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/7911067094572446885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/7911067094572446885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/2008/11/komunitas-film-indie.html' title='komunitas film indie'/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862.post-2860553064696135979</id><published>2008-11-26T09:37:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T09:38:06.301-08:00</updated><title type='text'>toc Tochija Ingin Cimahi Jadi Pusat Film Indie</title><content type='html'>&lt;!-- google_ad_section_start --&gt;Jakarta (ANTARA News) - Kotamadya Cimahi, Jawa Barat, ingin menjadi pusat produksi film indie (independent), dengan mengandalkan potensinya sebagai kota bersejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cimahi tidak punya kekayaan sumber daya alam, kecuali dikenal sebagai pusat pelatihan tentara sejak jaman Belanda," kata Walikota Itoc Tochija kepada wartawan, saat menghadiri peluncuran (soft launching) pembangunan rusunami (rumah susun sederhana milik) The Edge Superblock, di Bandung, Sabtu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengungkapkan, sejak tahun 1862 Cimahi telah dijadikan pusat pelatihan tentara, dan karenanya menyimpan bangunan tua bersejarah seperti Gedung Dustira, Penjara Poncol, Gedung Sudirman, Pemakaman Kerkhoff, dan Bioskop Rio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, bangunan-bangunan itu dapat dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan syuting iklan maupun film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengungkapkan, saat ini SMK I Cimahi sudah memiliki jurusan film, dan sekolah kejuruan itu diharapkan dapat mencetak sineas-sineas bermutu untuk membangun daerahnya sebagai pusat perfilman.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Memang tidak mudah, mungkin dimulai dari pembuatan film-film iklan dulu, baru nanti ke film besar (bioskop)," katanya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Keinginan menjadikan Cimahi sebagai salah satu pusat film indie itu tidak terlepas dari tekad Pemkot Cimahi untuk menjadikan daerahnya sebagai tempat berkumpul insan kreatif, seperti halnya Bandung sebagai kota pusat kreativitas yang sudah terdaftar dalam jaringan dunia.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Karena itu kami menyambut baik pembangunan rusunami The Edge Super Block ini, yang kelak bukan hanya menjadi tempat hunian kelas menengah ke atas, tetapi sekaligus juga menjadi pusat komunitas kreatif sebagai bagian dari pembangunan kesejahteraan masyarakat Cimahi," katanya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Menyinggung tentang kebutuhan tempat tinggal bagi masyarakat, Itoc menyatakan pembangunan rumah susun adalah pilihan terbaik mengingat Cimahi juga dikenal sebagai kota industri, padahal luas wilayahnya tidak seimbang dengan tingkat pertumbuhan penduduknya.(*)&lt;!-- google_ad_section_end --&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="cprt"&gt;COPYRIGHT © 2008&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695093974133986862-2860553064696135979?l=duanbuanget.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/2860553064696135979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2695093974133986862&amp;postID=2860553064696135979&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/2860553064696135979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/2860553064696135979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/2008/11/toc-tochija-ingin-cimahi-jadi-pusat.html' title='toc Tochija Ingin Cimahi Jadi Pusat Film Indie'/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862.post-2882455970978997580</id><published>2008-11-26T09:31:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T09:33:03.596-08:00</updated><title type='text'>Film Indie antara ruang dan uang  10 Months, 2 Weeks ago         Karma: 4</title><content type='html'>Kali ini tak perlu memperdebatkan lagi apa itu film indie. Setiap orang punya persepsi sendiri-sendiri. Relatif atau subyektif? Gak tau deh. Mungkin kamu lebih tau. Yang mungkin agak genit kata-kata antara ruang dan uang. Sama-sama dibutuhkan. Sama-sama menggoda. Dan percaya atau nggak kadang bagi para pembuat film indie mereka gak punya dua-duanya. Kita gak perlu terlalu jauh untuk ngomong soal perfilman indie tanah air atau bahkan Perfilman nasional, cukup di Jogja aja. Dahulu orang bilang kalo Jogja adalah Indonesia kecil. Ya…dahulu. Kini Jogja mungkin gak lebih dari sebuah replika kecil kota Jakarta. Makin hari makin semrawut. Makin macet. Lepas dari dari Jakarta adalah sentralisasi industri dan pemerintahan. Jogja juga dikenal sebagai kota budaya. Mmm…itu mungkin juga dahulu ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke laptop, dalam setahun produksi film indie di Jogja tidak bisa dibilang sedikit. Meski ampe detik ini belum nemu data pastinya, tapi berdasarkan gosip dan cerita teman-teman komunitas film indie di Jogja, rata-rata tiap kelompok memproduksi hingga dua film tiap tahunnya. Kalau sekarang di Jogja ada kurang lebih lima puluhan komunitas, berati dalam setahun kota ini memiliki seratus judul film. Cukup banyak bukan? Yang jadi pertanyaan selanjutnya, kemanakah film-film itu? Dikirim ke festival-festival film? Hanya diputar di kampus atau komunitasnya sendiri? Belum di edit karena gak punya dana lagi? Atau hanya mangkrak di rak-rak kayu kamar dan terselip diantara beberapa buku-buku ciklit? Meski belum ada penelitian ke arah sana, yang jelas udah jadi rahasia umum kalo film-film itu gak lebih dari alat pemuas masturbasi. Ups, gak bermaksud menyinggung dan sok pinter, tapi kenyataannya seperti itu. Namun beberapa diantaranya cukup sukses dan ikut mengharumkan nama kota ini. Komunitas Four Color (gak tau sekarang masih bisa di bilang komunitas atau sudah menjadi sebuah rumah produksi besar) terbilang salah satu yang pertama mendobrak stigma ini. Memberikan warna tersendiri bagi perfilman Jogja, bahkan tanah air. Sebagai hasil dari kerja kerasnya, mereka diganjar piala FFI tahun 2006 lewat film “Harap Tenang Ada Ujian” besutan sutradara Ifa Isfansah. Masih ada beberapa nama lagi yang ikut andil dalam memajukan perkembangan film di Jogja. Tapi gak banyak. Sedikit menyentil lagi kemanakah film-film yang lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi ke judul tulisan ini, antara ruang dan uang. Sebuah masalah klise yang mungkin gak akan pernah ada ujungnya jika tidak ada yang mau peduli. Banyak dari para pembuat film indie mengeluhkan soal ruang. Dalam hal ini yang utama adalah soal ruang pemutaran, disamping banyak ruang yang mereka tuntut, seperti ruang media apresiasi dan ruang untuk berkumpul untuk saling berbagi cerita dan pengalaman bagi sesama pembuat dan penikmat. Berapa banyak sih ruang pemutaran untuk film indie? Sedikit sekali kalau mau tidak dibilang sebenarnya tidak ada. Karena memang tidak satu ruang khusus yang disediakan untuk memutar film-film indie ini oleh pemerintah. Dalam hal ini dewan kebudayaan lebih bertanggung jawab. Bukan berarti menyalahkan pemerintah lagi, tapi bukannya sudah menjadi kewajiban mereka merespon setiap aspirasi masyarakat. Apalagi ini sangat positif. Katanya Jogja diklaim sebagai kota budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua ruang publik yang mungkin cukup dikenal, yaitu benteng Vredeburg dan Taman Budaya Yogyakarta. Tapi apakah memadai untuk dipakai ruang pemutan film? Taman Budaya mungkin iya. Namun apakah kocek teman-teman pembuat film indie memadai untuk diputar disana? Dengar-dengar sih mereka mempunyai program untuk memutar film-film indie, namun ya itu, statusnya masih terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan kantung-kantung film lainnya ikut meramaikan suasana. Sebut saja Kinoki, dengan slogannya bukan bioskop bukan kafe. Terus apa dong? Kinoki di kenal cukup intens memutar film-film non mainstream dan film indie. Tempat ini kadang jadi tempat mangkalnya beberapa komunitas yang mengklaim dirinya sebagi sineas muda. Cukup banyak sineas muda dan karya yang muncul dari tempat ini. Namun balik lagi ke soal memadai. Apakah Kinoki sudah memadai sebagai tempat pemutaran film indie? Mengingat kalau boleh dibilang sebenarnya tempatnya open air, walhasil banyak suara bising yang sangat mengganggu ketika menonton film di sana. Mulai dari suara kendaraan, karena dekat dengan jalan utama, ataupun suara dari musik bercampur suara “mengengkrik” pelanggan dari kafe disebelahnya. Apalagi kalo hujan. Bukannya kalau nonton film kita harus berkonsentrasi dengan gambar dan suara yang dihasilkan? Terus kalo nonton film indie yang enak dimana dong? Mungkin di Lembaga Indonesia Perancis (LIP). Karena tempatnya lumayan memadai dari beberapa tempat yang disebutkan diatas. Baik secara kualitas maupun secara pendanaan. Tempatnya lebih layak dan lebih murah sewanya. Bahkan katanya bisa gratis. Tiba-tiba ada pertanyaan di kepala saya, kenapa pihak luar lebih respek dengan hal ini dibandingkan pihak kita sendiri? Saya gak menyinggung soal pemerintah lho. Tapi pihak kita. Dari beberapa kasus diatas, banyak para pembuat film akhirnya melarikan filmnya ke kampus-kampus. Meski bisa dikatakan belum/tidak layak, paling gak soal dana masih bisa kongkalikonglah dengan pihak universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembuat film indie juga sangat kesulitan di soal uang. Yah klasik. Saya pernah baca di sebuah buku bahwa sangat bodoh sekali bila kita kesulitan produksi film hanya karena uang. Itu menurut si penulis buku itu. Bagi saya mungkin lebih bodoh lagi kalau kita produksi film gak mikir uangnya darimana. Biaya produksinya mau dibayar pake daun?&lt;br /&gt;Ada banyak cara bagi para pembuat film indie untuk menyiasatinya, seperti kolekan uang tiap orang yang terlibat, gadai motor (kata anak nongkrong MTV : gw banget!) bahkan harus “ngemis” kebeberapa donatur. Tapi apa masih cukup untuk biaya produksi? Tergantung. Yup, tergantung mau produksi film apa. Kalau film action, mungkin lebih besar. Tapi nyatanya film saya yang bergenre drama, hanya satu setting dan hanya ada dua pemain menghabiskan dana kurang lebih dua belas juta. Dan sampai sekarang masih harus menyicil utang. Bisa jadi itu karena alat yang pakai sangat banyak dan jumlah crew yang mencapai tiga puluh orang. Kata teman saya itu jumlah uang yang sangat banyak sekali untuk produksi film indie di Jogja. Tapi kalau teman yang ada di Jakarta bilang, itu adalah hal yang hebat, karena biaya produksinya murah sekali. Nah lo??!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut ini terlalu cerewet atau otak ini yang emang suka usil, yang jelas ada satu pertanyaan yang mengganjal. Apakah pihak-pihak yang terkait, dalam hal ini yang harusnya ikut bertanggung jawab (saya gak nyebut pemerintah lho) diam saja. Maksudnya, apakah tidak ada dana bantuan, hibah, pinjaman lunak atau beasiswa bagi para pembuat film? Setidaknya buat nyewa kamera yang standar aja. Mungkin tidak ada. Saya pernah ngobrol dengan seseorang yang cukup dikenal dikalangan seniman dan pemerintahan, apakah pihak yang terkait/yang bertanggung jawab, yang biasa dikenal dengan dewan kebudayaan punya dana untuk itu? Jawabnya tidak. Mungkin karena dananya sudah habis, atau mungkin untuk menumbuhkan semangat kemandirian para pembuat film indie atau bahkan mereka sebenarnya memang gak pernah kepikiran untuk hal ini? Mungkin. Bagi mereka mungkin gak ada untungnya membiayai atau memfasilitasi para pembuat film. Toh kota ini dibangun bukan cuma untuk bikin film aja kan. Ya sedih sekali dong. Mereka mungkin lupa bahwa sebuah film mampu merefleksikan budaya suatu negara. Kalo kata buku-buku, film bisa menjadi benteng budaya negara dari arus budaya-budaya asing. Atau percaya gak sih kalo film bisa menjadi salah satu pencegah kerusakan alam, ikut andil dalam global warming?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang masalah uang inilah yang ikut menjadikan film-film indie Jogja tidak berkembang atau kalo boleh dibilang tidak punya standar sinematografi. Gimana mau menghasilkan gambar bagus, kalo gak bisa sewa kamera dan lampu yang standar. Atau mau suara yang dihasilkan jernih tapi gak punya uang untuk nyewa boom mic dan mixer audio. Sama aja boong dong. Yah..sebenarnya bisa sih, tapi ya gak maksimal. Terus kapan dong bisa bikin film yang maksimal? Yang ada sih semaksimal yang bisa kita lakukan dengan alat yang ada. Bukan sesuai dengan standard operational procedure. Kalo gak percaya buktikan aja, kita sih udah. Hal ini yang kadang bikin film-film indie terkesan asal-asalan. Atau karena stigma yang ada kalo film indie ya film yang asal jadi, yang penting ada kamera, angle shotnya aneh-aneh dan ceritanya nyeleneh? karena paling banter juga ditonton ma temen-temen sendiri. Kalo maunya seperti itu ya siap-siap aja beli sabun yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ruang dan uang mungkin dibedakan dari konsonan huruf “R”. Dua kata ini punya arti yang sangat berbeda tapi saling berhubungan. Ada ruang berati harus ada uang. Ada uang pasti butuh ruang. Huruf “R” juga bisa bermakna restricted (terbatas). Biasanya tanda ini berada dalam film-film yang banyak mengumbar adegan sadis dan vulgar, baik visual, bahasa maupun isi. Biasanya sih ada di film asing karena film Indonesia jarang sekali/hampir tidak ada yang mencantumkan tanda batasan ini. Dalam kaitannya dengan judul “Antara Ruang dan Uang” maksudnya huruf “R” bisa berarti film indie itu sangat “terbatas”. Bisa jadi penontonnya yang terbatas, karena biasanya hanya di tonton oleh para pembuat film, kritikus, penikmat film non mainstrem dan beberapa orang cukup militan di bidang seni. Bukan masyarakat umum. Bisa juga makna “terbatas” itu terbatas karena masalah dana untuk produksi. Karena umumnya film indie di Jogja dibikin dengan dana yang seminim mungkin. Atau bisa juga harusnya film indie itu memang diberi tanda “R”, karena tidak pernah ada sensor di film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas film indie terus bermunculan di kota ini, lepas dari berbagai persoalan yang ada. Semoga film indie di Jogja terus maju dan mulai menghilangkan stigma sebagai film yang “terbatasi”. Terbatasi karena karena ruang, terbatasi karena uang. Ada bahkan terbatasi dari segmentasi penonton, karena film indie hanya di cap sebagai film ecek-ecek. Dan bagi saya sendiri film indie adalah masalah “sikap”. Saya rela ketika film saya di cap sebagai film kelas divisi dua. Justru ini tantangannya. Bagaimana caranya harus bisa membawa film saya masuk ke divisi utama. Ini cuma masalah memilih dan menunggu*&lt;br /&gt;( * diambil dari potongan film DIALOG )&lt;br /&gt;Salut untuk semua pembuat film di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bermaksud menjadi nabi-nabian dan dengan segala hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ariep Sinchan&lt;br /&gt;(pojokfilm.blogspot.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695093974133986862-2882455970978997580?l=duanbuanget.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/2882455970978997580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2695093974133986862&amp;postID=2882455970978997580&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/2882455970978997580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/2882455970978997580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/2008/11/film-indie-antara-ruang-dan-uang-10.html' title='Film Indie antara ruang dan uang  10 Months, 2 Weeks ago         Karma: 4'/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862.post-4696654564697271560</id><published>2008-11-26T07:06:00.001-08:00</published><updated>2008-11-26T07:06:50.726-08:00</updated><title type='text'>14 langkah membuat film sendiri…</title><content type='html'> &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, banyak yang memprotes para produsen sinetron Indonesia yang dianggap telah kehilangan daya kreatif sehingga akhirnya menyadur film yang diproduksi orang luar. Tapi, sebenarnya, bagaimana sih cara membuat film itu? Posting ini bukan sebuah pembelaan, dan bukan pula sebuah hujatan baru. Hanya ingin menunjukkan… Begini lho, caranya membuat film. Hitung-hitung, sebagai materi tambahan buat anak-anak saya di sekolah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, membuat film itu dapat dibagi ke dalam 14 tahapan. Apa saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. IDE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, IDE ini harus unik dan original. Tapi, memutuskan untuk menyadur sebuah karya orang lain itu juga termasuk sebuah IDE lho… Untuk mencari IDE, banyak cara yang bisa dilakukan. Melakukan pengamatan terus-menerus, jalan-jalan ke tempat yang aneh dan belum pernah didatangi manusia, nangkring di pohon asem di pinggir jalan sambil mengamati kendaraan yang lalu lalang, atau bahkan duduk santai di sebuah food court di suatu plaza atau mall. Melamun sendirian di dalam kamar juga bisa mendatangkan ide, kok…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan IDE, tentukan sasaran dari film yang akan dibuat. Koleksi pribadi? Murid SMU? Komunitas S&amp;amp;M? Para Otaku? Para Blogger? Siapa yang akan menonton film itu nantinya? Itu juga harus ditentukan dengan jelas di awal. Jangan sampai terjadi, film tersebut ditujukan untuk anak SMU tapi karena tidak disosialisasikan dengan jelas, akhirnya dipenuhi adegan berantem penuh darah ala 300&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IDE dan Sasaran sudah ditetapkan. Yang harus dipastikan selanjutnya adalah tujuan pembuatan film. Ingin menggugah nasionalisme seperti Naga Bonar? Ingin menyampaikan pesan terakhir sebelum nge-bom? Ingin mendapatkan kepuasan pribadi seperti pembuatan film Passion of the Christ? Apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pokok Materi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya adalah menyusun pokok materi. Apa sih pesan yang ingin disampaikan? Ungkapan cinta? Sekedar pesan mengingatkan bahaya merokok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sinopsis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinopsis adalah ringkasan yang menggambarkan cerita secara garis besar. Semacam ide awal gitu loh. Dari sinopsis ini, nantinya bisa dikembangkan menjadi cerita yang lebih detil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Treatment&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan ini adalah penggambaran adegan-adegan yang nantinya akan muncul dalam cerita. Tidak mendetil. Contoh treatment itu seperti ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang perokok yang sedang merokok dengan santainya. Kemudian tiba-tiba dia batuk-batuk dengan hebat dan agak lama. Sebelum beranjak pergi, orang itu membuang rokoknya sembarangan. Tiba-tiba muncul api…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Naskah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah adalah bentuk mendetil dari cerita. Dilengkapi dengan berbagai penjelasan yang mendukung cerita (seting environment, background music, ekspresi, semuanya…). Contoh naskah itu, seperti ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FS. Ali mengayuh becak. Ais duduk merenung, tidak mempedulikan Ali yang bolak-balik menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali : Dak usah dipikir lah, Mbak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ais : (kaget) Heh? Apa, Bang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pengkajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian disini, adalah yang dilakukan oleh seorang ahli isi (content) atau ahli media. Yang dikaji, adalah apakah naskahnya sudah sesuai dengan tujuan semula? Dan hal-hal yang mirip seperti itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Produksi Prototipe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses ini dibagi jadi 3 sub-tahap, yaitu pra-produksi (penjabaran naskah, casting pemain, pengumpulan perlengkapan, penentuan dan pembuatan set, penentuan shot yang baik, pembuatan story board, pembuatan rancangan anggaran, serta penyusunan kerabat kerja), produksi (pengambilan gambar sesuai dengan naskah dan improvisasi sutradara), purna-produksi (intinya adalah editing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Uji coba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji coba ini dilakukan dengan memutar prototipe di hadapan sekelompok kecil orang. Kalau produsen film besar, biasanya melakukan ini di hadapan para kritikus. Tujuannya adalah untuk mengetahui respon dari calon audiens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Revisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ada respon, maka dilakukan perubahan jika diperlukan. Karena itu lah, banyak film yang memiliki deleted scenes. Itu diakibatkan proses uji coba dan revisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Preview&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preview itu adalah pemutaran perdana, di hadapan para ahli isi, ahli media, sutradara, produser, penulis naskah, editor, dan semua kru yang terlibat dalam produksi. Tujuan dari preview ini adalah untuk memastikan apakah semuanya berjalan lancar sesuai rencana atau ada penyimpangan. Bisa dikatakan, bahwa preview ini adalah proses pemeriksaan terakhir sebelum sebuah film diluncurkan secara resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Pembuatan Bahan Penyerta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Penyerta itu adalah poster iklan, trailer, teaser, buku manual (jika film yang dibuat adalah sebuah film tutorial), dan lain sebagainya yang mungkin dibutuhkan untuk mensukseskan film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Penggandaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap terakhir adalah penggandaan untuk arsip dan untuk didistribusikan oleh para Joni (ini terjadi pada jaman dulu kala, waktu format film digital masih ada di angan-angan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, demikian lah proses produksi sebuah film. Dari awal sampai akhir, siap untuk didistribusikan. Jadi, apa lagi yang ditunggu? Mari kita produksi film-film berkualitas agar tidak dikatakan bahwa sineas Indonesia telah kehilangan kreatifitas dan tidak bisa memproduksi karya orisinil lagi. SEMANGAT!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695093974133986862-4696654564697271560?l=duanbuanget.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/4696654564697271560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2695093974133986862&amp;postID=4696654564697271560&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/4696654564697271560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/4696654564697271560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/2008/11/14-langkah-membuat-film-sendiri.html' title='14 langkah membuat film sendiri…'/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862.post-2347349933569129762</id><published>2008-11-26T06:51:00.001-08:00</published><updated>2008-11-26T06:52:30.699-08:00</updated><title type='text'>Membuat Film Dokumenter (3)</title><content type='html'>Seperti sudah kelaziman di setiap stasiun-stasiun televisi, dominasi produser eksekutif dan produser sangat besar dalam menawarkan topik cerita. Merekalah yang berperan mencari, mempertimbangkan, dan menawarkannya pada sebuah rapat praproduksi. Kru lain pun sebenarnya memiliki kesempatan untuk menawarkan idenya. Namun, menyangkut pengambilan keputusan, tetap mutlak berada di tangan produser eksekutif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini, tentu saja, jauh berbeda dengan penggarapan film dokumenter independen – yang diproduseri dan disutradarai sendiri. Karena, biasanya sang filmmakerlah yang mencari, mempertimbangkan, dan memutuskan topik terbaik untuk filmnya. Kadang, sang filmmaker mendapat dukungan ide atau saran dari kru lainnya. Namun, kebebasan berkehendak tetaplah menjadi harta sang filmmaker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan yang didapat dari banyaknya kreator yang berkumpul di satu meja, tentu saja, semakin banyaknya ide dan sudut pandang. Ada banyak pilihan yang disedikaan. Seiring dengan itu, semakin berkumpul pulalah sejumlah keinginan. Seakan seluruh penyumbang ide berkeinginan memaksakan idenya(?) Rumit juga, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak terjebak dalam pertarungan tentang ide atau data, maka biasa saya langsung menutuskan, untuk mengolah kumpulan ide dan data itu menjadi film statement atau premis atau ide cerita. Kalangan pembuat film layar lebar atau sinentron menyebutnya premis atau ide cerita. Namun, kalangan pembuat film dokumenter menyebutnya film statement. Padahal, makna ketiganya sama saja, yakni sebuah rencana untuk mengatakan sesuatu melalui film. Atau, sebuah kehendak untuk menyampaikan pesan melalui bahasa audio-visual. Atau, ide dasar dari rangkaian cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah persoalan terpenting dalam setiap produksi. Ibaratnya, ia merupakan roh bagi jasmani. Atau, pondasi bagi sebuah bangunan. Ia akan menjadi dasar pijakan untuk pekerjaan berikutnya. Karena itu, ketika ide sudah didapat dan ada keinginan untuk membuat film dokumenter, para filmmaker akan berjuang mati-matian untuk merumuskan film statement atau premis filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, penguraian masalah premis itu akan mendapat porsi yang besar pada setiap bab di buku ini. Tanpa menceritakan proses perumusan premis, maka sama artinya dengan tidak membahas film dokumenter atau program dokumeter televisi. Pengalaman membuktikan, pelajaran utama memproduksi film dokumenter, justru pada bagian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk mempermudah penentuan fokus cerita, agar lebih spesifik dan mengerucut ke suatu masalah, biasanya saya langsung memikirkan premis awal. Disebut premis awal, karena saya selalu merasa bakal ada perubahan dan menjadikannya sebagai premis akhir. Penyebabnya, lagi-lagi, menyangkut riset yang lemah dan ketidakmengertian akan situasi di lokasi. Anehnya, kedua problem selalu terjadi di setiap produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, diskusi untuk merumuskan premis awal tetaplah menarik. Dan, sangat memungkinkan untuk menjadikannya fokus ke masalah yang ingin kita tuju. Karena, waktu tidak bisa kompromi dan senantiasa menuntut untuk segera menentukan; masalah apa yang harus disampaikan pada film dokumenter kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus pertama yang biasa saya lakukan adalah benar-benar memusatkan perhatian pada pesan yang ingin disampaikan. Buka mata dan telinga, untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin. Sehingga, kita bisa membuat premis yang benar-benar baru, lebih spesifik, lebih fokus, serta sedapat mungkin, sangat menarik dan tengah menjadi perhatian orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ketika saya mendapat permintaan menggarap masalah orangutan di Kalimantan. Maka, saya pun langsung mencari masalah yang paling menarik dari ide cerita itu. Bicara tentang orangutan, segera saja ingatan saya tertuju pada nasib orangutan yang sering diperjualbelikan secara illegal, diburu dan dibantai, dan ada juga direhabilitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, premis saya pun mengarah pada “penyelamatan orangutan”. Arah pesannya sudah sangat jelas, yakni tentang bagaimana upaya menyelamatkan orangutan lantaran banyak pihak yang membantai hewan liar itu. Namun, apakah premis itu sudah spesifik? Dikatakan “penyelamatan”, pertimbangkan lagi, diselamatkan dari apa? Diselamatkan dari kejahatan atau masalah apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyeknya memang sudah jelas, yakni orangutan. Tapi, rumusan itu terasa masih menggantung dan belum mengarah ke suatu fokus. Kita pun masih akan diputar-putar oleh premis kita sendiri. Karena itu, saya harus membuat premis itu, katakanlah premis awal, menjadi lebih spesifik. Sehingga, kita bisa mendapat gambaran tentang fokus cerita. Premis yang bisa menuntun ke arah fokus cerita. Sebut saja, premis akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba membalikkan pikiran menuju premis awal “penyelamatan orangutan”. Dengan bekal premis itu, saya pun segera memikirkan data dan fakta lain, yang saat itu tengah berhubungan erat dengan masalah penyelamatan orangutan. Sehingga, saya bisa mempertimbangkan fakta itu dan menjadikannya sebagai premis akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi dari teman LSM di Kalimantan Tengah menyebutkan, adanya pembantaian orangutan oleh para pekerja kebun kelapa sawit. Hal itu merupakan dampak dari pembukaan hutan menjadi kebun kelapa sawit. Orangutan kehilangan habitat, lalu mencari makan ke dalam kawasan kebun kelapa sawit. Banyak kelapa sawit yang rusak. Sehingga, pemilik kebun harus menanggung kerugian. Maka, ia pun memerintahkan para pekerjanya untuk memburu orangutan. Tujuan utamanya adalah menyelamatkan kebun kelapa sawitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak perlu berpikir lama. Karena, data mutakhir yang saya dapat makin memfokus pada satu masalah; pemburuan orangutan oleh para pekerja kebun kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Lokasi penggarapannya pun sudah jelas, yakni Kalimantan Tengah. Maka, akhirnya merumuskan premis akhir, “penyelamatan orangutan dari kekejaman para pekerja kebun kelapa sawit di Kalimantan Tengah”. Sebuah film statement atau premis yang lebih panjang dari premis asal, namun makin fokus ke suatu obyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangutan di Kalimantan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengungkapkan berbagai permasalahn orangutan di Kalimantan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premis Awal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penyelamatan orangutan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info aktual:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan kebun kelapa sawit di sejumlah tempat di Kalimantan Tengah diikuti hilangnya habitat orangutan. Orangutan kehilangan habitat dan tempat mencari makan. Orangutan masuk ke kebun kelapa sawit dan merusak kelapa sawit. Para pemilik kebun kelapa sawit marah dan meminta para pekerjanya memburu orangutan. Perburuan berakibat kematian dan korban kekerasan lain pada orangutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premis Akhir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upaya penyelamatkan orangutan dari kekejaman para pekerja kebun kelapa sawit di Kalimantan Tengah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tadi diungkapkan di atas, premis ibarat pondasi dari sebuah bangunan. Ia bisa berbentuk apa saja dan ia bakal menjadi cikal-bakal bentuk bangunan di atasnya. Karena itu, kokoh dan tidaknya bangunan, indah atau tidak indahnya bangunan, tentu saja sangat bergantung pada pondasi bangunan.&lt;br /&gt;Kesimpulannya, rapat praproduksi merupakan momen menarik bagi seluruh tim produksi, untuk sama-sama memfokuskan diri ke satu pandangan. Bukan sekedar mendiskusikan data dan hipotesis-hipotesis. Tapi, kinilah saatnya mempertimbangkan pesan pada film kita. Apa sih yang ingin dikatakan kepada penonton? Satu kalimat saja,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695093974133986862-2347349933569129762?l=duanbuanget.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/2347349933569129762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2695093974133986862&amp;postID=2347349933569129762&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/2347349933569129762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/2347349933569129762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/2008/11/membuat-film-dokumenter-3.html' title='Membuat Film Dokumenter (3)'/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2695093974133986862.post-1517790974112307946</id><published>2008-11-12T23:06:00.000-08:00</published><updated>2008-11-12T23:07:46.977-08:00</updated><title type='text'>mendua ternyata susah juga</title><content type='html'>gw punya temen yang paling gila dan super pde sampai orang seperti itu masih bisa punya ce 2&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2695093974133986862-1517790974112307946?l=duanbuanget.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://duanbuanget.blogspot.com/feeds/1517790974112307946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2695093974133986862&amp;postID=1517790974112307946&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/1517790974112307946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2695093974133986862/posts/default/1517790974112307946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://duanbuanget.blogspot.com/2008/11/mendua-ternyata-susah-juga.html' title='mendua ternyata susah juga'/><author><name>aku dan kamu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04446196939265873864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Hkq4whbEXnQ/SRvM2nWVl-I/AAAAAAAAAAc/c4PyS9ZQHWY/S220/duan.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
